Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Januari 2011

Politik Sepak Bola Arifin dan Bakri


Siapa yang tak cinta Timnas Sepakbola Indonesia? Anda, saya dan kita semua, saya kira mencintai Timnas. Antusiasme sebagian besar orang Indonesia dan luapan penonton di Senayan saat Timnas berlaga di final Piala AFF Suzuki 2010 adalah salah satu bukti, bahwa sebagian besar dari kita mencintai Timnas. Sebagian di antara kita, mungkin malah bermimpi, Timnas bisa berlaga di Piala Dunia.
Tapi menyertai semua semangat dan mimpi itu, ada isu yang tertendang ke gawang publik: gonjang-ganjing pelaksanaan Liga Primer Indonesia. PSSI menganggap pergelaran liga itu ilegal, karena katanya tidak direstui FIFA, AFC dan tentu saja oleh PSSI. Tendangan selanjutnya adalah teriakan-teriakan, agar Ketua Umum PSSI Nurdin Halid mundur dari jabatannya, dan kabar tentang  Irfan Bachdim pemain Persema Malang yang konon akan berlaga di Liga Primer.



Minggu, 16 Januari 2011

Ironi Pergerakan Mahasiswa


Mahasiswa senantiasa menjadi motor penggerak perubahan. Keinginan yang kuat dalam menyongsong masa depan dan keterbukaannya melihat  beragam sisi kehidupan, mendorong mahasiswa bangkit dari tiap keterpurukan. Kecekatan bekerja dan kekritisan berfikir yang disertai rasa tanggung jawab, menjadi penyejuk bagi zaman yang kian “edan”. Tak berlebihan jika istilah “pemuda adalah tulang punggung bangsa” selalu jadi pedoman. Dengan kombinasi luar biasa yang dimilikinya, mahasiswa mampu tampil di depan memegang kendali sebuah peradaban.


Menilik sejarah Indonesia awal kemerdekaan, menjadi bukti nyata peran sentral pergerakan mahasiswa. Sebut saja zaman proklamasi kemerdekaan. Atas inisiatif kuat mahasiswalah akhirnya proklamasi itu berhasil dikumandangkan dan menjadi momentum baru arah perjuangan bangsa Indonesia. Begitu pula dengan reformasi 13 tahun silam. Andil mahasiswa begitu besar dalam mencetuskan angin perubahan dan kemudian menenggelamkan rezim totaliter .


Namun kini ironi seringkali kita jumpai. Tak jarang mahasiswa seakan lupa akan tanggungjawabnya sebagai tumpuan harapan. Sebagian mahasiswa memandang remeh pentingnya pergerakan. Belajar menjadi satu-satunya pilihan. Padahal keadaan negeri ini yang menegenaskan menuntut peran mahasiswa lebih dominan.




Merekonstruksi Hakikat Demokrasi

Oleh : Ari Ahmad Afandi


Semenjak tak adanya sistem pemerintahan yang menjadi landasan atas diterapkannya syariat islam, umat muslim kini layaknya nahkoda yang kehilangan arah. Tak tahu kemana harus melangkah dan dengan apa ia harus berubah. Semakin hari umat semakin terkaburkan antara batas haq dan kebatilan. Tak bisa membedakan mana yang menjadi perintah dan mana yang menjadi larangan. Bahkan sebagian besar dari mereka cenderung apatis atas hukum islam yang seharusnya dijadikan pegangan.




 
Copyright 2011 Afandi's Memoirs. All rights reserved.
Theme modified by Ari Ahmad Afandi